)] )] FORUM SEJAHTERA )] )]
Photobucket

Kamis, 16 Juli 2009

Cuma Jual Pisang Goreng Omset 14 Juta Perhari

Pisang adalah buah yang banyak kita jumpai dimana saja. Pisang bisa dibilang salah satu buah favorit yang biasa dinikmati oleh masyarakat pada umumnya, mulai dari kalangan bawah hingga kalangan atas. Pisang pun adalah salah satu bahan mentah yang dapat diolah menjadi aneka masakan yang lezat. Dan salah satunya adalah pisang goreng yang sudah menjamur penjualnya dimana-mana.

Namun ada hal yang berbeda dengan penjual pisang goreng yang satu ini. Namanya Robby Tjan. Ya pada dasarnya hanya pisang goreng biasa, Namun Robby melakukan yang hal sedikit berbeda dengan yang lain, pisang gorengnya ia kemas dengan baik, sehingga jajanan yang disukai oleh hampir semua masyarakat Indonesia ini akan menjadi bisnis yang besar. Robby Tjan telah membuktikannya dengan Pisang Pontia nya.
Laris manis bak kacang goreng, bukan lagi ungkapan basa-basi, bagi Robby Tjan. Sebab, melalui empat gerai pisang gorengnya yang dinamai Pontia, pisang gorengnya menjadi menu favorit bagi penggila makanan instan di Jakarta dan sekitarnya. Dan yang lebih penting lagi dia bisa meraup omset sebesar Rp13,5 juta hingga Rp14 juta semalam! Dan, berdasarkan pengamatan, diperkirakan omset ini akan terus membumbung di waktu-waktu mendatang. Padahal, modal yang ditanamkan hanya Rp800 ribu, sedangkan produknya cuma pisang goreng tepung.


“Pada dasarnya, Pontia hanyalah pisang goreng biasa. Mungkin, bedanya dengan pisang goreng pada umumnya yaitu terbuat dari pisang kepok Pontianak (pisang jenis ini lebih manis daripada pisang kepok pada umumnya dan saat digoreng tidak terlalu menyerap minyak, red.) yang dibungkus rapat dengan tepung terigu ¯ sehingga pisangnya sama sekali tidak kelihatan ¯ sebelum pisang itu digoreng. Kala dimakan, akan terasa manis dan renyah,” kata Robby. Di sisi lain, pisang-pisang ini ditempatkan dalam kemasan yang terbuat dari kertas karton (kardus, red.) berlabel Pontia. Selain itu, outlet Pontia juga bukan gerobak biasa, dan para karyawan yang melayani pembeli mengenakan pakaian seragam. Lebih dari itu semua, mungkin harga per bijinya yang hanya Rp2000,-, padahal “tampangnya” terbilang keren. “Nggak malu-maluinlah kalau dipakai untuk ngoleh-ngolehin calon mertua,” tambahnya.

Setiap kemasan, berisi lima pisang goreng. Tapi, Robby tidak pernah memaksa konsumennya yang selalu (antri) mengular, agar membeli minimal satu kemasan seperti aturan yang diberlakukan Dunkin Donuts, misalnya. “Konsumen boleh membeli berapa pun mereka mau,” ucapnya. Untuk variasi, Pontia juga menyediakan kacang hijau dan sukun goreng.

Pontia dibangun Robby yang awalnya hanya ingin menjalankan bisnis dengan modal kecil, setelah gagal dalam bisnis pelayaran yang modalnya miliaran rupiah. Tapi, saat itu dia belum tahu apa bentuk bisnisnya. Sampai kemudian, dia menyadari bahwa pisang goreng buatan istrinya yang selalu menjadi santapan sehari-hari keluarga ini, terasa makin lama makin enak. Lalu, terlintas dalam benaknya untuk membisniskan makanan kegemaran keluarganya ini. “Bagi saya yang biasa bermain di modal miliaran, modal berbisnis pisang goreng ini sangat kecil,” katanya, tanpa bermaksud sombong.

Melalui bantuan saudaranya, Robby yang memiliki apotik di kawasan Sunter, menggunakan ruangan yang tak terpakai di depan apotiknya sebagai tempat pertama berjualan Pontia, pada Agustus lalu. Hasilnya sangat menakjubkan. Karena, pada malam pertama pisang goreng yang dipasarkan dengan harga Rp1000,- per potong, omset sebesar Rp500 ribu bisa dia raup. Sekadar informasi, perbedaan harga Pontia di Sunter dengan cabang-cabang yang lain didasari daya beli masyarakat setempat dan Pontia di sini tidak ditempatkan dalam kemasan.


Sebulan kemudian, Robby membuka cabang Pontia di kawasan Kosambi.”Di sini, belum selesai dagangan digelar, sudah diserbu habis oleh konsumen!” ujarnya. Kondisi ini membuatnya berani membuka satu gerai lagi di kawasan Bintaro pada Bulan Oktober. Dan, hasilnya juga luar biasa, sehingga akhir 2005 dia membuka satu gerai lagi di Cibubur. Dari, empat outlet ini, setiap malam (Pontia dibuka dari jam 14.00 hingga jam 23.00, red.) Robby meraup Rp13,5 juta hingga Rp14 juta! Itu artinya, 6.750 buah pisang digoreng setiap malam!

Sebuah kenekadan atau spekulasi? “Tidak! Animo pembelilah yang mendorong saya membuka outlet ini secara beruntun. Selain itu, juga bukan untung-untungan. Sebab, investasi, kalau boleh ini dibilang investasi, di bisnis ini sangat kecil. Menurut saya, investasi itu berkaitan dengan angka yang besar sekali, sedangkan di bisnis ini investasinya sangat kecil. Dan, kalau terjadi sesuatu, tidak ada risiko apa pun yang harus ditanggung. Jadi, harap maklum kalau banyak orang berjualan pisang goreng, bukan karena prospeknya cerah, melainkan karena kecilnya modal, “ ucapnya.

Untuk promosinya, Robby menggunakan rasa penasaran konsumen. “Sebenarnya, saya sendiri agak kaget. Kenapa hanya pisang goreng bisa antri sepanjang ini,” katanya. Untuk mengatasi rasa penasarannya, sekaligus mengetahui berapa transaksi per malam, dia melakukan survai di Bintaro. Hasil penelitian sederhana tersebut yaitu dalam semalam terjadi 200–230 transaksi (pembelian) dan sekitar 150 di antaranya repeat di Pontia cabang Bintaro. Sedangkan, di Cibubur per malam dibukukan 100 transaksi. Sekadar informasi, Pontia cabang Bintaro merupakan gerai yang paling besar, karena di sini tersedia 13 penggorengan. Gerai kedua terbesar adalah Pontia cabang Cibubur yang menyediakan tujuh penggorengan.

Ke depannya, Robby berencana membuka gerai di Blok M, Puri Kembangan, atau Depok. “Banyak tempat di Jakarta ini yang masih bisa dijelajahi,” katanya. Selain itu, dia juga akan menggunakan sistem delivery, serta penjualan per kemasan atau paket.

Di sisi lain, berkaitan dengan Pontia yang mulai dilirik seorang pengusaha dari Singapura, Robby menawarkan kerja sama dengan ketentuan gerainya harus berpendingin ruangan serta dilengkapi dengan meja dan kursi, sehingga Pontia bisa dinikmati konsumen sambil kongko-kongko. Berbisnis dengan modal miliaran, tidak selalu memberi hasil yang sebanding. Sebaliknya, “berdagang” pisang goreng, yang oleh sebagian besar orang dipandang sebagai bisnis yang paling rendah,karena dilakukan oleh pengusaha kecil sekali, justru mampu menciptakan penjualan yang menakjubkan. Jadi jangan anggap enteng, biar hanya pisang goreng, tapi bisa menciptakan cash yang besar. Huh!!!

PISANG GORENG PONTIA
ROBBY DJAN
Jalan Mawar Nomor 63 Sunter Agung, Ancol, Jakarta Utara
Telepon: (021) 70778828



Read more.....

Rabu, 08 Juli 2009

Mari Membangun Backlink dengan MLM BACKLINK

Setelah membaca trik backlink building dari mas Lutvi di Cafebisnis.com,
MLMBACKLINK.CO.CC tertarik untuk mengembangkan trik farming backlink ini agar lebih mudah diterapkan oleh para blogger. Dengan sistem ini, anda hanya perlu melakukan rebloging artikel dengan daftar link yang di generate otomatis sesuai dengan upline referal anda. Oleh karena itu, seluruh pendapatan backlink anda dari downline bisa lebih terpantau. Dan yang penting, sistem ini bisa mencegah mereka yang ingin berbuat curang dengan menghapus beberapa link uplinenya dari daftar backlink.

Berikut ini backlink yang digenerate berdasar referal saya :


 SISTEM MLM BACKLINK AUTOMATIS
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Jika tiap peserta mampu mengajak 5 orang saja, maka jumlah backlink yang akan didapat adalah



Ketika posisi anda 10 , jumlah backlink = 5 ( mereka yg mendaftar dgn referal anda)

Posisi 9, jml backlink = 25

Posisi 8, jml backlink = 125

Posisi 7, jml backlink = 625

Posisi 6, jml backlink = 3125

Posisi 5, jml backlink = 15,625

Posisi 4, jml backlink = 78,125

Posisi 3, jml backlink = 390,625

Posisi 2, jml backlink = 1,953,125



Dan semuanya menggunakan kata kunci yang anda inginkan. Dari sisi SEO anda sudah mendapatkan 1,953,125 backlink dan efek sampingnya jika pengunjung web para downline anda mengklik link itu, anda juga mendapatkan traffik tambahan.


Anda tertarik untuk mengikuti MLM BACKLINK ini?

100% GRATIS - CUKUP DENGAN REPOST ARTIKEL KE BLOG ANDA !!


+ LIHAT STATISTIK PENDAPATAN BACKLINK SAYA
+ BERGABUNG DENGAN MLM BACKLINK

Read more.....

Rabu, 01 Juli 2009

MOKO " Mobil Toko" : Why Not !

BERDAGANG DI ATAS MOBIL YANG SEMPAT MENJADI TREN, KINI LAYAK DI COBA LAGI. SALAH SATUNYA DENGAN MENYIMAK CARA FEBY, PENJUAL SERABI BANDUNG DI ATAS MOBIL DI PELATARAN MASJID SUNDA KELAPA, JAKARTA.

Sebelum krisis ekonomi tempo hari, Dewi Motik Pramono memperkenalkan ide Mobil Toko (moko). Yakni berjualan di atas mobil. Melalui koperasi De Mono yang ia kelola, Dewi Motik pernah menggelar 100 moko dengan menggunakan mobil niaga sejenis Suzuki Futura.
Kini ide semacam itu tampaknya terdengar segar kembali. Terutama dengan makin banyaknya

aktivitas konsumen berbasis komunitas, di samping melayani pusat-pusat kegiatan bisnis yang keramaiannya berlangsung singkat. Apalagi pada masa ramadhan dan lebaran. Di waktu-waktu seperti ini muncul pusat-pusat keramaian baru, semisal di seputar masjid atau lapangan terbuka. Selain dagangan berupa hidangan berbuka puasa, aneka produk yang berkaitan dengan peralatan ibadah dan busana lebaran ramai peminatnya.Untuk melayaninya, unit-unit moko akan lebih luwes dan gesit untuk menjangkau berbagai lokasi dalam kurun waktu yang pendek.

Salah satu contohnya adalah Feby dan suaminya Rian, yang sejak tahun 2002 berdagang serabi bandung dengan menggunakan Moko di pelataran Masjid Sunda Kelapa, Jakarta. Menurut analisis bisnis dari Tabloid Duit!, setiap hari dengan jam operasi pukul 06.00 hingga 15.00, Feby dapat mengatongi keuntungan bersih paling tidak Rp. 6.600.000 setiap bulan. Dengan investasi awal sebuah Mobil daihatsu espass pada tahun itu seharga Rp. 30 juta, keuntungannya telah bisa mengembalikan modal awal dalam tempo lima bulan.

SURVEY TEMPAT.

Salah satu yang penting dalam menggeluti bisnis ini adalah mencari tempat strategis. Tempat strategis dalam hal ini bukan hanya menyangkut potensi keramaiannya yanga ada, tapi juga menyangkut waktu yang paling tepat. Menurut Feby, pelataran masjid Sunda Kelapa memang ramai dilalui kendaran dan terdapat banyak pedagang kaki lima yang mangkal di sana, sebagai tempat makan siang para pegawai kantor di sekitar itu.

Namun menurut Feby, penjualan paling tinggi bagi serabinya justru pada pagi hari ketika orang mau masuk kantor. Rupanya serabi bandung yang ia tawarkan di pergunakan sebagai sarapan pagi. “Selain itu, pada sore hari ketika orang mau pulang kerja, lumayan juga yang membeli,” tambah Feby.

Sebelum menemukan tempat di pelataran Masjid sunda kelapa, Feby sudha berjualan dengan mokodi kawasan Dharmawangsa ketika pembangunan hotel disana sedang berlangsung. Sasarannya adalah para pekerja pembangunan itu. feby berdagang makanan rumahan di samping serabi bandung sebagai pelengkap. Eh, ternyata yang banyak di minati justru Serabi Bandung. Dan yang membeli bukan para pekerja bangunan, melainkan orang-orang yang lewat di sekitar tempat tersebut.

Ketika pembangunan hotel itu usai, usai pula usaha moko mereka di kawasan itu. Maka sejak tahun 2002, ia dan suaminya melakukan survey tempat. Setelah seminggu mengelilingi berbagai pusat keramaian di jakarta, Feby yang tinggal di tangerang akhirnya memutuskan berdagang dengan moko di pelataran Masjid sunda kelapa. Dengan membayar sewa tempat RP. 300.000,- per bulan mereka mendapatkan tempat tersebut. Hingga kini, menurut Feby, tempat untuk berdagang di pelataran masjid sunda kelapa sudah tertutup alias tidak ada izin baru lagi. “Dulu kami sempat digusur, tapi setelah ada penataan dan pendataan kembali, kami mendapat tempat,” kata Feby.

SERABI BIKINAN NENEK

Serabi yang di jual oleh feby adalah bikinan almarhum neneknya yang akrab di sapa bu Dede. Sekarang produksi serabi itu di kerjakan oleh tiga karyawannya, yang di bayar secara harian Rp. 15.000,-. Karyawan itu bekerja sejak sore hingga tengah malam. Selanjutnya serabi di antarkan dari Tangerang ke kawasan Masjid sunda kelapa. Sebelum pukul 6.00 Feby sudah tiba di tempat itu untuk menyambut lalu lalang para karyawan kantor yang akan bekerja di tempat itu. Banyak juga penduduk sekitar yang berolah raga di tempat itu yang jadi pelanggan serabi bandung jualan Feby.

Menurut Feby, salah satu keistimewaan serabi bandung yang ia jual adalah kuahnya yang di anggap enak oleh para pelanggannya. Serabi itu di kemas dalam bungkusan plastik yang praktis untuk di bawa di atas motor atau di dalam mobil. Para pembeli serabinya biasanya tak perlu turun dari kendaraannya karena sambil menunggu kemacetan lalu lintas di kawasan itu, mereka cukup dengan memanggil atau memberi isyarat, feby dan stafnya akan segera mengantarkan serabi yang di pesan itu.

Moko milik Feby bentuknya sebenarnya sederhana. Tak lebih dari sebuah Daihatsu Espass yang kursi belakangnya sudah di copot. Ekor mobil itu di buat menghadap ke jalan raya. Lalu kapnya di biarkan terbuka sekaligus menjadi atap. Lalu didalam mobil, ada etalase tempat Feby meletakkan dagangannya. Mobil itu di parkir tak ubahnya seperti mobil-mobil lain yang di parkir di area itu. Jadi sama sekali tidak mengganggu lalu lintas. Juga tidak membuat suasana trotoar jadi semrawut.

PELUANG KERJASAMA.

Setelah empat tahun menggeluti bisnis ini mko ini, Feby sebenarnya berencana mengembangkan bisnisnya. Ia tengah mempersiapkan berbagai peluang kerjasama dengan model bisnis serupa, yakni berdagang menggunakan moko. feby sendiri sudah menjajaki aneka lokasi yang potensial, semisal di kawasan jalan Sabang, yang menurutnya ramai dan belum ada yang menjajakan serabi.

Buat Feby sendiri yang paling dipikirkan untuk di tawarkan kepada mitranya adalah menjual putus serabi bandung buatannya. Maksudnya adalah Feby yang memproduksi serabi sementara mitra kerjasamanya yang menjualnya. Untuk harga, Feby menawarkan diskon yang menarik. ” Itu bisa di negosiasikan.” kata Feby.

Feby sendiri ketika memulai bisnisnya membeli mobil Daihatsu Espass tersebut secara kontan senilai Rp. 30 juta. Menurut dia, tak sampai dua tahun ia sudah kembali modal. Meskipun demikian, ia akui keadaan ekonomi sekarang ini terlihat stagnan daya beli tidka sekuat tahun 2002. Itu sebabnya, harga serabi yang ia tawarkan baru sekali saja mengalami penyesuaian, yakni sejak beberapa bulan lalu dari Rp. 7.500,- menjadi Rp. 8.000,-.

BAGAIMANA MENDAPATKAN MOKO

Bagi yang tertarik mendapatkan moko, sebenarnya banyak jalur yang dapat di tempuh. Salah satunya adalah dengan membeli mobil baru yang sudah di modifikasi. PT Indomobil Niaga International adalah salah satu produsen otomotif yang menyediakan divisi khusus untuk ini. Menurut Arisman Zagoto, Special Project officer PT Indomobil, tak kurang dari 400 moko sudah di lansir oleh pihaknya sejauh ini. “Ini masih yang terpantau oleh kami. Bisa juga para pembeli langsung pergi ke dealer, jadi bukan lewat kantor pusat,” kata Arisman.

Menurut Arisman, ada aneka bentuk Moko yang bisa di modifikasi sesuai dengan pesanan pembali. “Tergantung peruntukannnya. Kita bisa bikin ‘rumahnya’, misalnya yang bentuk warung makan. Bisa juga seperti mobil roti,” kata Arisman. Dia sendiri berpendapat moko merupakan salah satu solusi untuk mendukung bergulirnya perekonomian sekaligus mendorong entrepreneurship di kalangan menengah bawah.

Moko, menurut Arisman, pada masa mendatang akan menjadi tren terutama menyambut berbagai aneka even. Sebagai contoh, adanya kegiatan Pekan Olahraga Nasional (PON)
membutuhkan dukungan logistik diseputar kegiatan. Moko adalah sarana yang paling fleksibel untuk memenuhi kebutuhan ini. “Bayangkan, begitu kumpul 50 kendaraan, itu sudha jadi restoran raksasa,” kata Arisman.

Untuk mendapatkan moko baru, menurut Arisaman, untuk saat ini cukup menyediakan uang muka sebesar Rp. 22 juta hingga Rp. 25 juta. Dengan cicilan Rp. 125 ribu per hari, dalam 3 tahun pembelian itu akan lunas. ” Nah, tantangannya kan mendapatkan keuntungan Rp. 125 ribu per hari. Saya kira itu bukan target yang sulit,” kata Arisman.

by : Partisimon

Read more.....

Hikmah

Beasiswa Info S1 S2 S3

Job Career Vacancy

Tips Bekerja

Cari Kebutuhan Buku Anda di Sini!


Masukkan Code ini K1-24A1A2-3
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Blog Tutorial

My Ping in TotalPing.com Find broken links on your website for free with LinkTiger.com Manual traffic exchange
 

FORUM SEJAHTERA